Skyline = Cloverfield + War of the World + Independence Day

Written on 1:38 AM by Harits Anwar

Seperti kebanyakan orang, sebelum menonton film biasanya saya mencari tahu dulu film yang akan saya tonton, seperti: trailer, aktor, sutradara, dll (biasanya dari imdb). Dan memang strategi marketing Hollywood untuk ‘memborbardir’ public dengan trailer dan promosi besar-besaran sebelum filmnya rilis.
So, ketika melihat trailer film Skyline saya sedikit kaget, ko bisa saya belum pernah dengar berita apa-apa tentang film ini, tiba-tiba muncul, yang lebih mengagetkan, sehari setelah trailernya dirilis, filmnya sudah main di bioskop. Dilihat dari trailernya sepertinya cukup menjanjikan, namun kenapa minim iklan? Setelah googling sedikit, ternyata ini adalah film indie (seriously? I’m surprised!) garapan Strause Brothers (Colin Strause & Greg Strause). Strause Brothers sangat terkenal di Hollywood sebagai ‘Special Effect Master’ (http://uk.imdb.com/name/nm0833779) yang berpengalaman menggarap film besar dari mulai Titanic, Iron Man, 2012, Avatar, semua digarap oleh mereka, dan Skyline merupakan film pertama yang mereka sutradarai. Sedikit menarik melihat mereka terjun ke dunia directing (CMIIW). Film indie digarap oleh master special effect? Sepertinya tidak terlalu pesimis kalau memprediksi film ini akan sangat menonjolkan visual effect. 

And as usual, I was right :P



Menceritakan Jarrod dan Elaine yang sedang berlibur di apartemen di Los Angeles, tiba-tiba cahaya biru berjatuhan dari langit dan mengambil orang-orang di kota tersebut, mereka terjebak di sebuah apartemen, sempat berusaha keluar namun berakibat terbunuhnya sahabat mereka, sedangkan di apartemennya sendiri alien sedang berusaha mencari mereka dengan tentakel-tentakelnya yang bercahaya. Para pesawat tempur dikerahkan untuk melawan alien tersebut, sayangnya mereka tidak berhasil. Terdengar familiar? 


 Opening act sekelompok anak muda yang berpesta lalu diserang alien? cerita yang sama dengan film Cloverfield-nya JJ Abrams. Alien dengan tentakel bercahaya berusaha mencari manusia di dalam apartemen? Alien yang nyaris sama persis dengan ‘War of the World’-nya Stephen Spielberg. Pesawat tempur yang menembaki pesawat induk alien? juga mengingatkan dengan ‘Independence Day’-nya Roland Emmerich. Bisa dibilang film ini sangat tidak original (kalau tidak mau disebut plagiat).

Para aktor di film ini biasa saja, maklum karena ini film indie, mereka tidak punya budget banyak untuk membayar aktor besar. Alhasil adegan emosional dan usaha menyelamatkan diri jadi terlihat kurang hidup. 
Well, setidaknya aliennya hidup :P.

Seandainya film ini digarap oleh Stephen Spielberg atau JJ Abrams mutlak akan saya katakan film ini mengecewakan. Dan dengan berat hati saya harus puas dengan film ini. Why? Karena ini merupakan film indie, sebagai info budget film ini hanya $10 juta, so, mereka tidak sanggup membayar penulis naskah yang handal, aktor terkanal, atau scoring yang bagus. Tidak adil rasanya membandingkan film ini dengan War of the Worlds yang berbudget $135 juta (10X lipat lebih) atau Independence Day $75 juta. Sejujurnya saya kagum bagaimana $10 juta bisa dimaksimalkan untuk menggarap special effect sebaik itu, bahkan lebih baik daripada special effect Independence Day. 

Verdict: cerita yang tidak original (naskah yang meniru sana sini), aktor standar, durasi yang singkat, inti cerita film ini hanya 50 menit, 20 menit pertama sumpah membosankan, sedangkan 15 menit terakhir tidak penting ...ya!, I saya menghitungnya, lol. Ingin film invasi alien berkualitas? Pastinya bakalan kecewa, tapi ingin melihat film indie budget 'hanya' $10 juta dengan special effect mewah? Akan menarik ;)

Step Up 3D: Cathcy and Enjoyable!

Written on 8:49 AM by Harits Anwar


Di tahun ini ada 2 film bertemakan dance, yaitu Street Dance 3D dan Step Up 3D, hal yang menarik adalah keduanya disajikan dalam format 3D, sepertinya ini menandakan kalau sekarang adalah era 3D movie. Mungkin ini tahun yang menyenangkan bagi penggemar pop dance atau hanya sekenar hip-hop lover, selain ada 2 film bertemakan dance, keduanya pun disajikan secara 3D.

Step Up 3D bercerita mengenai kehidupan penari jalanan di kota New York, masih setia  dengan 2 film sebelumnya, film ini masih diperankan Adam G. Sevani sebagai Moose. Jika di 2 film sebelumnya menceritakan kehidupan penari jalanan, di film ini ceritanya berpusat pada karakter Moose yang kini masuk ke sebuah universitas di New York. Sepertinya mudah menebak jalan cerita film ini, di univeritas tersebut dia menemukan komunitas penari di New York, kelompok para penari yang bernama ‘Pirates’ ini merupakan kumpulan penari jalanan yang semua tinggal di rumah milik Luke (Rick Malambri). Anda tidak perlu menonton 2 film sebelumnya untuk mengerti cerita film ini, walaupun sekuel dari film Step Up 1 dan 2, jalan cerita film ini tidak terlalu berhubungan dengan film sebelumnya. Jalan ceritanya sendiri cenderung mudah ditebak dan ‘klise’.






But wait, this movie is not all about the story...

Yup, film ini lebih menonjolkan segi ‘entertain’ berupa dance dan musik-musik hip-hop bertempo cepat, hampir keseleruhan film ini berisi dance dan hip-hop. Format  3D di film ini punya kelebihan tersendiri, bisa dibilang format 3Dlah yang paling berjasa ‘menunjang’ di film ini, dengan judul ‘Step Up 3D’ bukan ‘Step Up 3’, sepertinya menegaskan kalau ini adalah upgrade dari film bergenre sejenis sebelumnya. Jika film ini ditampilkan 2D mungkin ‘feel’nya akan berbeda, so saya lebih menyarankan menonton 3Dnya.

Thanks to 3D that makes converntional 2D movies seems ‘Old School’ :P.

Saya harus akui efek 3D film ini sangat bagus, semua detil filmnya (bahkan ketika adegan non-dance) tampak dikonversi menjadi full 3D, bahkan dibandingkan film Street Dance 3D, film ini masih lebih bagus, efek popping-eye nya sangat terasa dan sangat entertain tentunya.

Musik-musik pengirin dance di film ini juga sangat catchy, IMHO music di film Step Up 3D masih lebih bagus daripada di Street Dance 3D, total 34 soundtrack yang mengiringi film ini tidak mengecewakan, terutama main soundtrack film ini 'Club Can't Handle Me' oleh Flo Rida yang sangat catchy untuk didengar :D



Jika anda mengharapkan jalan cerita pada film ini, mungkin anda akan kecewa karena ceritanya biasa dan mudah ditebak, namun jika anda merupakan penggemar dance, film ini akan sangat menghibur anda. 
Just dance and orget about the story anyway :P.

Selamat Idul Firti...

Written on 11:08 PM by Harits Anwar

Sherlock (TV Series): Modernisasi Sherlock Holmes

Written on 7:43 PM by Harits Anwar


Menurut wikipedia istilah modernisasi yaitu "Perubahan keadaan dari peradaban 'pra-modern' atau 'tradisional' ke masyarakat 'masa kini' atau modern". Lalu demikian istilah 'Modernisasi Film' berarti perubahan kultur/materi sebuah film menjadi lebih 'masa kini' atau modern.
So, mengacu kepada pengertian diatas, apa sih kriteria 'Modernisasi Film'..? Perubahan setting ke zaman sekarang? Ya. Aktor-aktor yang lebih muda (dan menarik :P)? Sure. Joke-joke yang fresh dan segar? Okay. Gadget-gadget elektronik terkini? Oh yeah.

Well, sepertinya istilah 'Modernisasi Film' sangat cocok untuk mendeskripsikan TV Series terbaru keluaran BBC: 'Sherlock'. Ya, kamu tidak salah kalau menebak serial ini mengenai Sherlock Holmes, detektif (yang sayangnya fiktif) karya Arthur Conan Doyle dari Inggris.
Cerita Sherlock sebenarnya sama dengan bukunya, Sherlock Holmes, hanya dalam serial ini dibuat dengan setting masa kini, jangan bayangkan latar belakang London tahun 1891  dengan nuansa klasik yang kental dan orang-orang zaman dulu, dengan segala hal yang berbau kuno, kereta kuda, dll.., bukan, film ini sangat berbeda. 




Serial TV berjudul Sherlock (tanpa Holmes :P) ber-setting di masa kini dengan tokoh utama Sherlock Holmes dan partner setianya, Dr Watson. Jangan samakan karakter Holmes dan Watson di film ini dengan yang diperankan Robert Downey, Jr. dan Jude Law di film Sherlock Holmes tahun 2009 lalu, apalagi dengan sosok  Sherlock Holmes versi tahun 1891.  Sherlock Holmes di serial ini diperankan oleh anak muda (berusia sekitar 20-25) dengan pembawaan yang lebih 'Cool', bukan 'Old School' seperti pada bukunya. Karena mengambil setting di tahun 2010 otomatis suasana filmnya pun lebih modern, kota London jauh lebih modern dibanding tahun 1800an, kereta kuda diganti dengan mobil, surat-menyurat diganti e-mail, dan semua peralatan yang belum ada di zaman dulu.


Di serial ini menceritakan Sherlock Holmes sebagai pemuda yang memiliki ketertarikan (lebih tepatnya 'tergila-gila') dengan menganalisa dan memecahkan kasus kriminal yang terjadi di kota London, namun tidak seperti kebanyakan detektif, dia melakukan dengan sukarela tanpa dibayar, 'just for fun', seperti kata Sherlock. Secara kebetulan yang menguntungkan, dia bertemu dengan Dr John Watson, jangan bayangkan sosoknya seperti dokter kebanyakan, sosok Watson versi film ini adalah dokter mantan tentara perang di Afghanistan.

Pertama kali melihat trailernya di youtube, saya sedikit pesimis dengan serial ini karena Modernisasi Sherlock Holmes terkesan dipaksakan, dan melihat aktor-aktornya seperti kurang cocok untuk memerankan versi mudanya Sherlock Holmes.

But don't judge a book by its cover, and don't judge a movie by its trailer... ;)
 
Well prediksi saya mennjadi keliru setelah menonton episode pertamanya, Fantastic!! Sebagai seorang penggemar buku Sherlock Holmes saya tentunya mempunyai ekspektasi besar ketika menontonnya, dan film ini sama sekali tidak mengecewakan, actually, its surprising!! :D

Aktor-aktornya justru terlihat pas di serial ini, tidak seperti Sherlock Holmes versi Robert Downey, Jr yang sedikit agak 'konyol' dan beraksen amerika (yang menurut saya janggal), Holmes yang diperankan Benedict Cumberbatch mampu menggambarkan sosok Sherlock Holmes yang muda, fresh, cool, dan pintar, sedangkan Dr Watson diperankan Martin Freeman yang smart namun sedikit lugu dan membuat karakternya tidak begitu kaku.
Cast yang lainnya pun tidak mengecewakan, dan semuanya berasal dari Inggris, so, aksen British sangat kental di film ini. Pemilihan cast yang briliant.
Ceritanya sendiri masih setia dengan bukunya, yaitu mengenai Holmes & Dr Watson yang memecahkan kasus-kasus kriminal di kota London. Namun perbedaan 'Sherlock Modern' dengan Sherlock versi bukunya, Sherlock di serial ini berkarakter anak muda, dalam memecahkan kasusnya kadang dia menggunakan HandPhone, Laptop, GPS, dll, tentunya gadget tersebut belum ada di tahun 1894 :P.

Yang membuat film ini lebih fresh tentunya adalah transformasi filmnya dari 'Old School' menjadi 'New School' yang tentunya lebih menarik untuk ditonton anak muda. Entah kenapa untuk saya pribadi karakter Sherlock di serial ini lebih baik daripada Sherlock versi Robert Downey, karena terlihat smart & kalem, lebih mendekati karakter di novelnya, walaupun untuk karakter Dr Watson saya lebih suka versi Jude Law karena lebih dewasa (ini pendapat pribadi loh).

Episode perdana (aka Pilot) serial ini berjudul ‘A Study in Pink’, bercerita mengenai bunuh diri berantai (ya, bunuh diri, bukan pembunuhan) yang terjadi di kota London, episode ini seperti episode perkenalan karakter Sherlock dan Darwin ketika mereka pertama kali bertemu. Sedangkan episode keduanya berjudul ‘The Blind Banker’ yaitu mengenai pembunuhan berantai yang dilakukan oleh jaringan mafia dari China. Menurut saya pribadi episode kedua lebih menegangkan daripada yang pertama, unsur thrilling-nya sangat terasa.
Score untuk serial ini juga lumayan bagus, sangat mirip dengan score versi Hans Zimmer (atau memang sengaja?), sayang score di serial ini bukan digarap oleh maestro Zimmer, but okay, its not bad.
 
Tahun 2010 sepertinya menjadi tahun yang menyenangkan bagi penggemar detektif Sherlock Holmes, setelah film Sherlock versi Guy Ritchie yang keluar Desember tahun lalu, muncul serial ini yang buat saya pribadi lebih bagus daripada versi Guy Ritchie. Sedikit saran, sebaiknya ketika menonton serial ini jangan ngantuk, karena hampir keseluruhan serial ini benar-benar membuat kita mikir, dan perhatikan juga detail peristiwa dan keadaannya, supaya anda tidak dibuat bingung.

Sucker Punch Trailer (2011 movie)

Written on 10:58 PM by Harits Anwar


Sepertinya sudah menjadi trend (atau strategi advertising?) di Hollywood untuk membuat trailer jauh sebelum filmnya dirilis.

Begitu juga trailer film Sucker Punch yang akan dirilis tahun 2011 nanti sudah tersedia secara online di internet. Well, untuk saya pribadi trailer ini cukup sukses menarik perhatian, terbukti dari banyaknya count dan comment video di youtube dan juga prediksi-prediksi yang bertebaran di internet.


Beberapa informasi dari hasil googling:

Film Sucker Punch memperlihatkan dunia khayalan tokoh utama Babydoll yang diperankan Emily Browing. Dari trailernya kita bisa melihat kalau tokoh utama tinggal di tempat bernama 'Lennox House', yaitu tempat penampungan orang dengan masalah mental, mungkin semacam rumah sakit jiwa.
Selain Browing masih ada 5 gadis seksi berkostum ketat lainnya  Carla Gugino (Madam Gorski), Jena Malone (Rocket), Vanessa Hudgens (Blondie), Jamie Chung (Amber), dan Abbie Cornish (Sweetpea).Tak hanya itu, dalam cuplikan trailer juga menampilkan seekor naga yang dapat menyemburkan api. Keseluruhan trailer ini terlihat seperti campuran video game dan anime dipadu dengan gaya khas Zack Snyder. "Next Year, You Will Be Unprepared"

Sucker Punch mengambil masa di tahun 1950-an dimana seorang gadis bernama Babydoll (Browning) yang mengalami gangguan mental dan dikurung dalam rumah sakit jiwa oleh ayah tirinya yang kejam. Selama di rumah sakit jiwa, Babydoll berimajinasi liar dengan menciptakan dunianya sendiri untuk menghindari realita kehidupannya yang gelap. Ia mulai merencanakan kabur dari rumah sakit tersebut dengan syarat harus mencuri 5 benda terlebih dulu. Hingga akhirnya imajinasi liarnya membuat batas mimpi dan kenyataan menjadi kabur dan berpotensi berakhir tragis.

Sucker Punch dibintangi Carla Gugino, Vanessa Hudgens, Jena Malone, Jon Hamm, Michael Jai White, Abbie Cornish, Emily Browning, dan Jamie Chung. Film action fantasi yang disutradarai Zack Snyder ini akan dirilis 25 Maret 2011 dan ditayangkan dengan format 2D, 3D, dan 3D IMAX.


more info: http://www.imdb.com/title/tt0978764/

Who is SALT?: A Bond in Bourne.

Written on 1:32 PM by Harits Anwar

Salah satu ciri khas film-film yang dibintangi Angelina Jolie mungkin karakter ‘super woman’, atau wanita yang banyak melakukan
tion, dari mulai dari Tomb Raider, Mr. & Mrs. Smith, dan Wanted, sepertinya Jolie memang aktris senior dalam film berjenis ‘woman in action’.

Pertama kali mendengar film ini dirilis membuat saya bingung, apa film ini berhubungan dengan garam? :P. Setelah melihat trailernya baru tahu kalau Salt adalah nama belakang dari seorang agen Rusia, Evelyn Salt.

Cerita tentang agen rahasia rusia yang menyusup ke lembaga pemerintahan AS memang sudah sering dicaritakan di film-film Hollywood, jadi merupakan tantangan berat bagi sang sutradara untuk membuat film dengan tema yang biasa agar terlihat fresh (well, tidak 100% pastinya) .

Untungnya, film yang berjudul nama belakang tokoh utamanya ini berfokus kepada sosok Evelyn Salt, well, lebih tepatnya konflik pribadi dirnya. Dengan tagline ‘who is Salt?’ film ini berfokus menguak jati diri Salt sebenarnya.
Dilihat dari segi ceritanya film ini memiliki banyak kemiripan dengan trilogi film Bourne yang diperankan Matt Damon, pertama: keduanya sama-sama sedang dalam konflik jati diri, kedua: keduanya bekerja di CIA, dan yang ketiga: keduanya merupakan spy/agen rahasia. Sedangkan dari segi action lebih menyerupai film James Bond (namun minus peralatan canggih :p).

Adegan awal film ini adalah adegan Evelyn Salt yang disiksa di Korea Utara untuk mengungkapkan rahasia dia bekerja untuk siapa, mengingatkan pada film James Bond: Die Another Day (coincident? Not sure :p). Lalu berlanjut dengan adegan Salt dibebaskan dari tahanannya.



Salt adalah agen CIA yang kemudian mendapat tugas menginterogasi defector dari Rusia, ditengah interogasi dia mengungkapkan bahwa Salt adalah seorang ‘Russian Spy’ dari organisasi penyelundup agen rahasia dari Rusia untuk menghancurkan AS. Benarkah?

And the story goes on...
 
Sejak interogasi yang mengejutkan tersebut kemudian cerita beralih menjadi proses pencarian siapa sebenarnya wanita asin ini? (Salt = garam. lol). Adegan interogasi menjadi awal konflik di film ini yang membawa kepada perkembangan cerita selanjutnya. Penonton seakan dibuat ikut mempertanyakan jati diri Salt yang sebenarnya, clue demi clue diberikan satu-satu serta potongan flash-back masa lalu Salt dari mulai sejak dia berusia 12 tahun.

Complicated? Yeah.

¾ dari keseluruhan film kita masih belum mengetahui identitas Salt yang sebenarnya, baru ¼ terakhir kita mengetahui niat Salt yang sebenarnya, cerita dengan grafik intense yang terus naik terbilang sangat bagus di film ini.


Adegan action di film ini, well, lumayanlah. Walaupun sebenarnya tidak terlalu fresh dan baru. Adegan kejar-kejaran di jalan raya mengingatkan dengan aksi Jason Bourne, selebihnya terlihat seperti adaptasi acion James Bond, namun terlihat natural dan tidak terlalu berlebihan. Saya melihat action di film ini hanya sebagai pemanis saja, karena action di film ini tidak terlalu istimewa. Btw, adegan saat Jolie menyamar menjadi laki-laki di white house lumayan menggelitik :D.
Sayang ending film ini kurang greget, mungkin sengaja dibuat menggantung supaya bisa dibuat sekuel-nya? Who knows.
Walaupun tidak menawarkan cerita yang fresh dan action yang 'standar', film ini cukup entertaining untuk ditonton, mungkin ini dampak film Inception yang membuat film-film lain yang diputar di waktu bersamaan jadi 'kurang nendang'.

Inception: Mind Blowing or Visual Blowing? Both.

Written on 8:23 PM by Harits Anwar


Apa yang anda harapkan dari film karya sutradara yang sebelumnya sukses besar dengan The Dark Knight, dan dibintangi aktor kelas atas Leonardo DiCaprio? Tentunya sebuah suguhan film dengan suguhan visual dan cerita yang luar biasa. Sepertinya sangat wajar bila kita mempunya ekspektasi tinggi ketika menonton film Inception, walapun sepengalaman saya menonton dengan ekspektasi tinggi biasanya mengecewakan.

Well prepare to blow your mind..!

Inception bercerita mengenai tokoh Dan Cobb (Leonardo DiCaprio) yang merupakan spesialis ‘mimpi’ (atau bahasa kerennya: Keamanan bawah sadar). Yang membuat Dan Cobb istimewa adalah kemampuannya untuk masuk kedalam mimpi seseorang dan mengambil ‘ide’nya, dalam melakukan hal ini dia dibantu oleh alat penghubung yang berbentuk seperti koper. Kemampuan unik Cobb membuat dia sering disewa oleh perusahaan besar untuk melakukan pencurian ide, hal ini membuat dia terkenal di kalangan penjahat kelas atas. Kegiatan pencurian pikiran dari alam mimpi ini disebut extraction. Namun dalam film ini Dan Cobb harus melakukan hal yang unik dan kebalikan dari extraction, yaitu Inception, menanamkan ide kedalam pikiran seseorang melalui mimpi.
 
Kegiatan masuk kedalam alam mimpi merupakan hal yang berbahaya, karena dengan masuk ke alam bawah sadar sangat labil dan jika tidak dilakukan dengan benar akan berdampak sangat buruk, hal ini juga yang menyebabkan Dan Cobb kehilangan istrinya, Mal (Marion Cotillard). Dihantui trauma masa lalu yang tidak menyenangkan, Dan Cobb terjebak kedalam situasi yang mengharuskan dia melakukan kegiatan Inception, ya, melakukan kegiatan yang sebelumnya telah merenggut nyawa istrinya.
 
Hal ini yang menjadi tantangan tersulit Cobb, ditengah trauma masa lalunya, dia mau tidak mau harus bekerja dengan Saito (Ken Watanabe), seorang pebisnis dari Jepang yang mempunyai project dengan misi menanamkan sebuah ide kedalam benak Robert Fischer, Jr. (Cillian Murphy). Dalam melakukan hal ini Cobb tidak dapat melakukannya sendiri, diapun mengajak Ariadne (Ellen Page) sebagai ‘arsitektur’ mimpi yang akan digunakan untuk masuk kedalam benak Fischer. Sebuah aksi yang berbahaya dan beresiko fatal, seperti tagline film ini:
 
"What's the most resilient parasite? An Idea. A single idea from the human mind can build cities. An idea can transform the world and rewrite all the rules." - Dom Cobb
 
Ditengah maraknya film-film sekuel, adaptasi, remake, dan reboot, Inception datang dengan ide yang original murni dari sang sutradara Christoper Nolan. Dengan begitu film ini cukup menepis anggapan masyarakat umum bahwa Hollywood sedang ‘kehabisan ide’.
Walaupun begitu ide film Inception dengan konsep pikiran mannusia bukanlah hal yang benar-benar baru, sebelumnya sudah ada film dengan tema pikiran manusia, mulai dari hilangnya ingatan di film Memento dan Insomnia, manipulasi pikiran di Eternal Sunshine of Spotless Mind, sampai pencarian jati diri di trilogi Bourne.
 
Ide film Inception sebenarnya sudah ada di beak Nolan sejak umur 16 tahun, dan kemudian ia kembangkan sampai delapan tahun kemudia Inception benar-benar dibuat kedalam layar lebar (sangat disayangkan tidak ditampilkan dalam format 3D yang lagi nge-trend sekarang). Mengapa membutuhkan waktu begitu lama untuk mengembangkan ide cerita? Kalau kamu sudah menonton Inception pasti mengerti, cerita di film ini merupakan cerita yang kompleks yang tidak mungkin ditulis dalam waktu sekejap, bahkan untuk ukuran film papan atas cerita film ini terbilang sangat kompleks. Hal yang mengejutkan bahwa ternyata film ini dapat dituturkan dengan logis dan tidak membingungkan (jika kamu tidak ngantuk saat menontonnya :P).
 
Pemilihan cast patut diacungi jempol, sepertinya pantas jika karakter dengan berbagai kompleksitas ditujukan kepada Leonardo DiCaprio, pemilihan cast yang lain juga dibilang pas, semua karakter memiliki peran yang jelas seingga banyaknya karakter di film ini tidak terlihat seperti ‘pemborosan’.
 
Overall, sebagai film pertengahan tahun 2010 rasanya Inception sudah membooking tempatnya di ajang Oscar, ide yang original mampu mendobrak kesan film-fllm Hollywood yang sudah kehabisan ide. Dengan budget $160 juta, rasanya film ini merupakan film yang sayang untuk dilewatkan, terutama jika kamu menginginkan film dengan konsep cerita yang ‘fresh’ ;).

Be Thankful

Written on 10:38 AM by Harits Anwar

Be thankful that you don’t already have everything you desire,
If you did, what would there be to look forward to?

Be thankful when you don’t know something
For it gives you the opportunity to learn.

Be thankful for the difficult times.
During those times you grow.

Be thankful for your limitations
Because they give you opportunities for improvement.

Be thankful for each new challenge
Because it will build your strength and character.

Be thankful for your mistakes
They will teach you valuable lessons.

Be thankful when you’re tired and weary
Because it means you’ve made a difference.

It is easy to be thankful for the good things.
A life of rich fulfillment comes to those who are
also thankful for the setbacks.



GRATITUDE can turn a negative into a positive.
Find a way to be thankful for your troubles
and they can become your blessings.


~ Author Unknown ~

Mengapa Yahudi Pintar? Mengapa Indonesia terbelakang?

Written on 4:23 PM by Harits Anwar


Bangsa Yahudi adalah salah satu bangsa yang menguasai dunia karena kecerdasan dan kelicikannya baik dari segi sains, bisnis, maupun teknologi. Allah Ta’ala memang telah menganugrahkan kepada bangsa Yahudi suatu kelebihan berupa otak yang cemerlang. Dan sungguh sangat menarik mengetahui kenapa orang Yahudi begitu pintar dan mempunyai kelebihan dibanding bangsa-bangsa lain di atas dunia ini. Tentu saja dalam hal ini hanyalah sebatas kelebihan dalam hal urusan keduniawian. Facebook yang sedang digandrungi sekarang ini pun adalah hasil karya mereka.

Berikut ini sebuah artikel yang akan memaparkan sedikit sebab dari fenomena kelebihan mereka ini.

Artikel Dr. Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship di beberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu “Mengapa Yahudi Pintar?”

Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa Tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri? Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk PhD-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Persiapan Melahirkan.
Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami. Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika. Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?” Dia menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.” Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya. Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.

Cara Makan.
Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang-orang Yahudi ketika mengandung. Menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.
Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),” ungkapnya.

Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam. Uniknya, mereka akan makan buah-buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah-buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk. Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

Rokok.
Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan di rumah Yahudi, jangan sekali-kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.
Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak (bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.

Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).
Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.
Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.

1 – 6 SD.
Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !” katanya. Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari. Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Sekolah Menengah – Perguruan Tinggi.
Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius. Apalagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi. Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Di akhir tahun di universitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus mempraktikannya. Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta! Anda terperanjat? Itulah kenyataannya.

Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

Pendidikan Anak Di Palestina.
Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza. Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak. Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran. Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. “Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?” demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.

Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur’an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka. Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.

Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya?

Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal. Benarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok!?” Kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. “Lihat saja Indonesia,” katanya seperti dalam tulisan itu. Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cents !!!

“Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?”

Sumber: Majalah Sabili

Tambahan :
Jika ada buah, mendahulukan makan buah sebelum makan berat adalah sesuai dengan sunnah/cara makan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam.
Memanah, berkuda, dan berenang adalah olahraga yang paling dianjurkan oleh Rasulullah Sallalahu ‘alaqihi wasallam kepada ummatnya.
Untuk ibu yang sedang mengandung, sangat dianjurkan untuk sering membaca atau mendengarkan Al-Qur’an.
Ternyata orang Yahudi juga sama dengan orang Islam, yaitu tidak memakan babi.

Yahudi dan Rokok.
Sebagaimana kita telah baca dalam artikel diatas, rokok adalah barang yang tabu bagi mereka. Akan tetapi tahukah anda Philip Morris adalah seorang Yahudi, adalah pemilik perusahaan rokok yang telah menguasai 50% pasar rokok di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, HM Sampoerna adalah termasuk milik Philip Morris.

Jadi apa yang bisa anda banggakan wahai perokok??? Bertaubatlah.

Wallahu ‘alam

Terimakasih

Semoga bermanfaat.

The Losers: Just anoither 'B Class' action movie...

Written on 3:35 PM by Harits Anwar

Film action yang disusupi komedi sangat identik dengan film ‘kelas B’, karena biasanya adegan action dan komedinya tidak proposional,  hanya Bad Boys yang bisa menyuguhkan adegan aksi dan komedi yang pas dan tidak terkesan timpang.
Begitu juga dengan film ‘The Losers’, film yang merupakan adaptasi Vertigo Comics ini (ya, film ini diangkat dari komik). Versi komik ‘The Losers’ sendiri kurang dikenal oleh orang bayak, bahkan pecinta komilk sekalipun kemungkinan tidak tahu ada komik berjudul ‘The Losers’. Sepertinya akhir-akhir ini banyak film dari adaptasi komik yang kurang terkenal, seperti Watchmen dan Kick-Ass (entah karena mereka kehabisan ide atau memang ingin menyenangkan comics die-had :P), walaupun kurang komiknya populer, ternyata bukan berarti filmnya bakalan down di pasaran, terbukti film Kick-Ass teryata sukses secara komersil.

The Losers igarap oleh Sylvain White, memang sutradara ini tidak begitu terkenal di Hollywood, sutradara yang pernah menggarap film ‘I'll Always Know What You Did Last Summer’ ini juga bukan sutradara yang produktif, dan melihat film-film yang digarapnya kebayakan kurang sukses, saya tidak menyalahkan anda kalau anda ber-eksperkasi rendah terhadap film ini. Begitu juga saya yang melihatnya seagai film ‘Kelas B’ yang biasanya murni merupakan ‘Popcorn Movie’.

Tetapi bukan berarti film ‘Kelas B’ tidak bisa menghibur ;)

Film ini menceritakan mengenai sebuah pasukan ‘Elite Team’ (basi? yeah) yang ditugaskan ke somalia untuk menghancurkan sebuah camp/markas teroris, yang ternyata merupakan sebuah konspirasi yang malah bertujuan untuk ‘membasmi’ team tersebut.
Fortunately (or unfortunately?) secara kebetulan yang tidak disegaja, tim ‘The Losers’ berhasil hidup. Mengetahui bahwa mereka seharusnya mati, maka mereka pun merahasiakan identitas mereka dan bahwa mereka masih hidup demi keselamatannya.




Film ini dibuka dengan dialog (yang terdengar serius) salah satu anggota team, yang ternyata itu merupakan joke semata, dari opening-nya film ini seakan menegaskan bahwa ini merupakan film komedi.
Action di film ini, well surprisingly, ternyata tidak begitu buruk, bahkan saya bisa menikmatinya, walaupun ceritanya standar sekali namun actionnya bisa membuat kita terhibur dengan adegan tembak-tembakan atau ledakan yang sebenarnya agak meniru film lain semacam James Bond, Bad Boys, dll.
But its okay, who cares? It’s a popcorn movie! :P



Kisah persahabatan antara anggota team yang solid merupakan nilai plus di film ini, begitu juga dengan aktor-aktornya yang pas, bukan aktor kelas Oscar memang, tetapi setidaknya tidak sekaku Robert Pattinson di Twilight (ups, sorry Twi-Hard :P). Lalu kemudian persahabatan yang berujung pernghianatan juga sebetulnya agak basi, tetapi okelah setidaknya ada adegan perkelahian yang membuat kita lupa akan ceritanya :P. Visual effect di film ini lumayan bagus, tidak seperti film 2012 yang full special effect, di film ini special effect-nya terlihat proporsional dan lumayan halus, walaupun tidak sehalus film-filmnya James Cameron atau Stephen Spielberg.


Sepertinya memang ada keuntungan tersendiri ketika kita menonton film dengan ekspektasi rendah, keuntungan pertama, jika filmnya buruk kita tidak begitu kecewa karena sudah mengantisipasi sebelumnya, dan keuntungan kedua, jika filmnya ternyata bagus (or at least entertaining), menjadi surprise yang tidak disangka-sangka yang mebuat bibir kita sedikit tersenyum kecil karena dugaan kita salah. Khusus untuk film ini, saya kita cukup menghibur, walaupun ceritanya sangat standar (thanks to visual effects!).
 

Toy Story 3: Pixar did it again...!

Written on 10:36 PM by Harits Anwar

Seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai meloncat pada akhirnya jatuh juga. Begitu juga dengan dunia perfilman, sebagus apapun studio maupun sutradaranya, tidak mungkin selamanya sukses, suatu saat pasti ada kegagalan. Itulah pikiran saya ketika pertama kali melihat trailer film terbaru Pixar, Toy Story 3, sejujurnya saya kurang begitu tertarik dengan Toy Story 3, karena dilihat dari trailernya kurang menarik, apalagi film sekuel yang dibuat sampai ke3 biasanya tidak sebagus film sebelumnya.

But hey, Its Pixar..!

Oya, ini adalah film Pixar, so, mana mungkin jelek! Bukankah begitu? Oke, Pixar memang mungkin satu-satunya studio animasi yang (hampir) tidak pernah gagal, tetapi seperti pepatah diatas, tidak mungkin Pixar sukses terus, suatu saat pasti jatuh, begitu melihat berita & trailer Toy Story 3, my thougs: 'well, this time, they're falling..' :P, sejujurnya saya sedikit agak pesimis dengan film ini.

Dan ternyata...

Ternyata film ini jauh lebih bagus dari yang bisa saya bayangkan! Wow! Ketika saya paksakan menonton film ini dalam format 3Dnya, film ini jauh dari kata mengecewakan (oke, saya salah! :P). Pixar did it again! yeah.. 


Film ini dibuka dengan cerita petualangan Buzz, Woody, dkk dalam imajinasi Andy, seperti ingin flash back ke 2 film Toy Story sebelumnya, film ini menampilkan cuplikan 2 film sebelumnya, seakan membuka album foto lama, kita diajak untuk bernostalgia dengan film Toy Story 1&2.
 
Pengembangan cerita pada film ini harus saya akui sangat bagus, tidak terlalu dipaksakan, sangat serasi dan tidak melenceng dari 2 film selanjutnya. Dalam film ini diceritakan kalau Andy, si pemilik 'Toys' (Buzz, Woody, dkk) sudah menginjak usia 17 tahun, yang berarti dia bukan anak kecil yang suka bermain mainan lagi. Alhasil, para Toys merasa Andy sudah melupakan mereka dan para mainan ini sudah tidak ada artinya lagi untuk mereka. Menarik juga melihat bagaimana usaha para Toys berusaha menarik simpati Andy kepada mainan masa lalunya. Namun karena suatu kesalahan, akhirnya para mainan tersebut 'tedampar' ke Sunnyside Daycare (suatu tempat penitipan anak di Amrik), disana mereka menjadi mainan baru dan bertemu dengan teman baru yang awalnya terlihat menyenangkan, namun ternyata berubah menjadi tempat yang sangat mengerikan ;P. Ending yang menyentuh juga menjadi nilai plus film ini.



Yang saya suka dari film ini (dan film Pixar lainnya) yaitu karakter yang terlihat sangat hidup, siapa yang bisa menyangka kalau karakter mainan bisa begitu emosional dan natural? Well, that's pixar, lihat saja bertapa hidupnya karakter robot Wall-E dan ikan Nemo. 
 
Film ini disajikan dalam 2 format, yaitu 2D dan 3D. Efek 3D yang digunakan lebih baik daripada film-film animasi 3D sebelumnya seperti Monster vs Alien atau How to Train Your Dragon. Saya menyarankan anda menonton dalam format 3Dnya karena lebih terasa 'feel'nya, lebihn mahal memang, but its worthly ;). Melihat kesuksekan 3Dnya Toy Story 3, sepertinya film-film Pixar lainnya juga akan disajikan dalam bentuk 3D (semoga saja :D).

Scoring yang digarap oleh Michael Giacchino sangat menunjang 'feel' dari film ini, sepertinya film-film Pixar memang langganan menggunakan Giacchino sebagai composernya (dan semoga begitu terus selanjutnya).
Alhasil, Toy Story 3 merupakan film ketiga yang meraup menghasilan diatas $100 juta, 2 film sebelumnya yaitu Iron Man 2 dan Alice in Wonderland.

Iron Man 2: He's Back! With new friends.. and enemies

Written on 1:12 AM by Harits Anwar

Sepertinya sudah menjadi tradisi atau aturan perfilman di Hollywood: Kalau ingin membuat sekuel sebuah film, buatlah dengan karakter (musuh/jagoan :P) yang semakin banyak dan perdalamlah kehidupan pribadi si tokoh utama. Hal ini mudah terlihat di film sekuel populer seperti Superman, Batman, Spiderman, Transformers dan yang terbaru, si manusia besi di 'Iron Man 2'. 
Lagi-lagi tampaknya formula tersebut yang dipakai, dengan penambahan banyak robot tokoh dan memperdalam kehidupan pribadi Tony Stark Iron Man 2.

Iron Man 2 pertama kali diperkenalkan ke publik dengan mengeluarkan Trailer Iron Man 2 yang tampak cukup menjanjikan, walaupun tetap saja Trailer tidak bisa dijadikan jaminan, karena memang sifatnya advertising. Trailer memang penting supaya penonton mendapat gambaran filmnya, tetapi dan terkadang sebuah trailer terlalu menjelaskan semuanya sehingga akhirnya alur cerita filmnya mudah ditebak.

Inilah yang terjadi di Iron Man 2, karena trailernya begitu 'jelas', sehingga penonton seperti sudah tahu jalan cerita filmnya, dimulai dari Tony Stark Expo yang menandakan semakin populer dan 'go public'-nya Iron Man, proses pengadilan Tony stark oleh pengadilan US untuk menyita teknologi Iron Man, sampai pada pertempuran dengan Iron Man asal Rusia, dan akhirnya memang (pastilah, ga seru dong kalo kalah, :D). Kita  sepertinya tidak perlu berpikir ketika menonton, semuanya tertebak.
Iron Man eating dougnut :D

Cerita yang ditawarkan Iron Man 2 boleh dibilang cukup kreatif, walalu tetap saja tidak bisa dibilang fresh. Seperti yang saya sebutkan, formula 'memperdalam karakter' sepertinya menjadi andalan, film ini berfokus pada kehidupan Tony Stark yang semakin populer dan mulai sombong dan egois, namun disamping semua itu dia merasa rapuh dan lemah menghadapi tekanan dalam hidupnya. Akting Robert Downey Jr cukup bagus sehingga dapat menggambarkan sosok Tony yang punya ego tinggi. 

 Ivan Vanko as Russian Iron Man :P

Pertempuran antar robot di film ini cukup bagus dan menghibur, namun adegan perkelahian Iron Man melawan robot rusia Ivan Vanko di akhir film terlalu cepat dan simple, padahal saya mengharapkan pertempuran habis-habisan dan berdarah-darah (mungkin ga sih? :P).

Tidak hanya Tony, karakter Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) juga dibuat menjadi seakin penting di film ini, kalau di Iron Man 1 dia terkesan hanya menjadi 'hiasan', maka sekarang dia merupakan orang yang berpengaruh di kehidupan Tony Stark dan diangkat menjadi CEO Stark Industries. Ada penambahan karakter di film ini, yaitu peran si seksi Scarlett Johansson sebagai Natalie Rushman (aka. Black Window). 

Iron Man 2 Ladies: Scarlett Johansson and Gwyneth Paltrow

Spesial Effek di film ini patut diacungi jempol, karena sukses menghadirkan visual yang entertain yang terlihat sangat real. Satu hal yang disayangkan film ini tidak muncul dalam format 3D, padahal ada banyak special effect dan adegan yang sebetulnya akan sangat menarik jika disajikan dalam 3D.


Iron Man 2 Trailer (please jangan dilihat kalau kamu ngga suka spoiler :P)

Overall, menurut saya pribadi sebagai film pembuka bulan Mei, Iron Man 2 cukup menghibur, asal jangan terlalu berekspektasi tinggi dan jangan berpikir ketika menonton (karena memang tidak ada yang perlu dipikirkan). Visual Efek yang ditawarkan lebih bagus dari sebelumnya, sayang ceritanya kurang berkembang, namun pendalaman tokohnya cukup baik. Kekecewaan pribadi buat saya adalah film ini tidak disajikan secara 3D. Bagi yang belum menonton film ini dan belum melihat trailernya, saya sarankan jangan lihat traiilernya kalau kamu tidak suka spiler :P.

Invictus: Mengenal Lebih Dekat Sosok Inspiratif Nelson Mandela

Written on 10:31 PM by Harits Anwar

Sangat jarang kita temui film bertemakan politik yang sangat bagus dan inspiratif, kalaupun ada biasanya terkesan 'berat' dan serius. Film Invictus merupakan film dengan tema politik terbaik yang pernah saya tonton, ditunjang dengan aktor-aktor yang sangat pas untuk memerankannya.

Mungkin kita semua sudah pernah mendengar Nelson Mandela, presiden Afrika Selatan pada tahun 1994-1999, namun tidak banyak yang kita ketahui darinya, apalagi mengenai jasa-jasanya. Saya sendiri tidak mengetahui banyak tentang mendiang Nelson Mandela, yang saya ketahui adalah dia merupakan salah figur yang paling terkenal di Afrika (terkenal karena apa, saya sendiri kurang tahu :P), mungkin seperti Mahatma Ghandi dari India.

Kebetulan beberapa hari yang lalu saya menonton film 'Invictus' (Invictus merupakan judul puisi yang berarti 'Human Factor') yang digarap oleh sutradara yang sukses dengan film 'Million Dollar Baby' dan 'Mystic River', Clint Easwood dan dibintangi aktor Bourne Trilogi Matt Damon dan aktor senior Morgan Freeman. Saya memang penggemar film-filmnya Client Easwood walaupun saya kurang begitu suka film dengan bau politik.

Well, who knows political movie can be Inspiring too..?



Film Invictus bercerita mengenai sosok presiden kulit hitam Afrika Selatan Nelson Mandela setelah dia dibebaskan dari penjara selama 30 tahun (30 years? wow!). Setelah tiga puluh tahun dipenjara ternyata Nelson Mandela tidak menyimpan dendam kepada siapapun yang memenjara dia. Bahkan ketika dia diangkat menjadi presiden beliau memaafkan semua yang menjadi musuhnya dahulu.

Adengan pembuka film ini menampilkan antusiasme masyarakat kulit hitam di Afrika Selatan kepada presiden baru mereka sekaligus pesimisme dari kaum kulit putih yang menganggap pengangkatan Nelson Mandela akan menjadi ancaman serius karena akan diprediksi lebih mengutamakan kaum kulit hitam, bahkan seseorang berkata: "It's that terrorist, Mandela, Remember this day, boys, This is the day our country went to the dogs".

Pembebebasan Mandela mengawali berakhirnya Rezim apartheid yang mendiskriminasikan warga kulit hitam di Afrika selatan tahun 1990an. Ternyata prediksi kaum kulit putih bahwa Mandela akan lebih mengutamakan kaum kulit hitam terbukti salah, dengan pemerintahan yang baru ini Mandela justru berusaha menyatukan kaum kulit hitam dan putih.

Namun cara yang dipakai Mandela untuk menyatukan kedua ras tersebut sangat unik, yaitu melalui olahraga.  Ya! olahraga, terpatnya tim rugby Afsel. Pada masa itu rugby merupakan olahraga kaum kulit putih di Afsel. Ada hal yang menarik, ketika pertandingan tim rugby Springboks Afsel melawan tim All England Inggris, para kaum kulit putih mendukung tim Springboks, sedangkan kaum kulit hitam mendukung All England, alih-alih mendukung negaranya sendiri.

Tim Rugby Springboks yang dipimpin Francois Pienaar (Matt Damon) merupakan tim yang sedang mengalami kemunduran yang mengakibatkan selalu kalah dalam pertandingan. Sehingga menimbulkan banyak pesimisme di kalangan masyarakat kalau tim Springboks tidak akan mempunyai kesempatan untuk memenangkan piala dunia rugby. 

Ternyata hal ini menjadi perhatian Nelson Mandela, secara cerdas dia melihat potensi dalam olahraga ini, yaitu potensi untuk menyatukan kedua ras yang sedang bermusuhan, sekaligus untuk meningkatkan kebanggan nasional.
Foto asli Nelson Mandela, terlihat sedang menggunakan batik
Melihat peluang yang ada, Mandela secara pribadi memanggil Francois Pienaar untuk memberikan puisi (:P) motivasi kepada timnya untuk memenangkan piala dunia Rugby. Ternyata pertemuan tersebut menjadi beban tersendiri bagi Francois Pienaar untuk memenangkan piala dunia rugby, yang bisa menjadi kebanggan nasional.
Secara cerdas dan tidak terlalu teburu-buru film ini menggambarkan sosok Nelson Mandela yang bijak memotivasi timnya, juga teladan yang ditunjukan oleh Mandela. Ada hal menarik yang dikatakan oleh Francois Pienaar mengenai Mandela yang membuat saya kagum: "I was thinking about how you (Mandela) spend 30 years in a tiny cell, and come out ready to forgive the people who put you there...". Wow! Very Inspiring...

Berkat dukungan penuh dari Mandela dan kerja keras tim Springboks, tim rugby Afsel yang semula tidak mendapat dukungan kaum kulit hitam kini mendapatkan dungan warga kulit hitam berkat prestasi yang ditunjukan tim Springboks. Hal ini pula yang membuat masyarakat Afsel bersorak gembira mendukung timnya. Alhasil, secara tidak terduga (kalau saya sih sudah menduga :D) ternyata tim Rugby nasional Afsel Springboks memenangkan piala dunia 1995. 

Saya kagum dengan Matt Damon di film ini yang secara fasih dapat berbicara logat inggris Afsel, dan juga akting Morgan Freeman yang (seperti biasa) selalu tampil maksimal. Scoring film ini sangat terasa Afsel yang penuh dengan musik khas Afsel di sepanjang film. Alur film ini juga sangat pas, tidak terlalu cepat dan juga tidak terasa lambat. Menonton film ini rasanya seperti menyaksikan biografi Nelson Mandela yang tidak banyak diketahui orang. Thanks for this movie, saja jadi tahu sosok Mandela sebenarnya.. :). Ketika di SD dahulu banyak saya (dan teman saya) yang menyangka Mandela adalah orang Indonesia, karena dia selalu terlihat memakai batik, haha.. Dan ternyata menurut Wikipedia Mandela selalu memakai batik, bahkan sampai dijuluki "Madiba shirts" (batik Mandela). Dan di sepanjang film Invictus Mandela sering sekali memakai batik.
Wah ternyata batik buatan Indonesia dipakai oleh salah satu presiden paling terkenal di dunia..!! :D

Sempat terpikir di benak saya: Kapan ya Indonesia memiliki sosok pemimpin seperti Mandela...?

Saya awalnya bingung bagaimana olahraga bisa menjadi alat politik untuk menyelesaikan masalah besar di Afsel, dan ternyata film ini bisa menggambarkan situasi yang terjadi saat itu secara smart & brilliant..!

Glee: TV Seri Musikal yang Paling Heboh Saat Ini

Written on 10:41 PM by Harits Anwar

Sejujurnya, saya bukanlah penggemar film musikal semacam High School Musical, atau Chicago atau Nine yang sempat booming. Apalagi jika film musikal dimasukkan kedalam format TV Series..? Wah kebayang pasti bakalan boring banget nontonnya.. :P

Tetapi itu sebelum saya nonton serial 'Glee'...

Mungkin kamu pernah dengar serial yg sedang ramai dibicarakan satu ini, apalagi kalau kamu berlangganan TV kabel semacam indovision pasti tau banget (gimana tidak,iklannya diputar di Star World & Fox hampir setiap satu jam! :P).



Saya pertama kali mengetahui Glee dari iklan di Star World, awalnya ga begitu tertarik dengan serial ini, karena selain musikal, saya juga belum pernah dengar sebelumnya. Namun karena bosan dengan iklan Glee yang diputar terus di TV, akhirnya maksa nonton 1 episode dulu (download dari internet :P)... And surprisingly I like it..!!

Glee bercerita tentang klub musik bernama 'Glee' (semacam ekskul di Indonesia) di McKinley High School Ohio, US. Awalnya kesan yang pertama muncul dari para personil Glee Klub adalah kumpulan siswa-siswa underdog yang ingin eksis di sekolah tersebut, awalnya saya mengira serial ini akan menjadi seperti serial Ugly Betty, tetapi ternyata Glee menawarkan lebih, karena selanjutnya banyak juga mahasiswa yang sangat populer join klub itu (entah kebetulan atau by accident :P). Yang cukup unik dari klub ini adalah, selain anggotanya terkesan underdog, karakter masing-masing anggota sangat berbeda, sepertinya memang hal ini yang ditawarkan dari Glee, sesuai dari tagline-nya di iklan: "Glee is about being yourself...". Quite inspirating, right?

Hal lain yang menjadi daya tarik (aka komersil) dari serial ini (dan mungkin ini adalah unsur yg terpenting) adalah musik-musik yang dibawakan oleh personil Glee, ya harus saya akui musik-musik dalam serial Glee sangat berkualitas, seakan setelah nonton serial ini, 'High School Musical' terkesan seperti serial anak-anak murahan, alias tidak apa-apanya! (no offense please ;)).  Serial garapan Ian Brenna, Brad Falchuk, dan Ryan Murphy sepertinya digarap dengan serius, walaupun ber-genre komedi musikal (tipical popcorn movie :D) tetapi alur dan penokohannya terlihat rapi dan terencanakan, begitu juga dengan pesan moral yang terdapat didalamnya. Sejauh ini sudah 13 episode yang ditayangkan, dan menurut saya kualitasnya sangat stabil, tergarap rapi, tidak ada cerita yang 'tanggung' atau 'absurd' sejauh penilaian saya. Salut dengan serial ini yang berhasil menyeimbangkan komposisi ceerita dan musiknya, alias tidak 'berat sebelah' (yang biasa menjadi kekurangan film musikal). Dalam setiap episode ada sekitar 6-10 lagu di serial ini, kebanyakan adalah lagu populer dengan sedikit (atau banyak) remix dengan unsur alcapella khas Glee.
Dan yang hebat adalah, semua personil benar-benar menyanyi. Ya! Tidak seperti Zach Effron yang 'pura-pura' menyanyi di High School Musical, semua aktor di Glee benar-benar bisa menyanyi. Terbayangkan bertapa sulitnya proses audisi menemukan aktor-aktor seperti mereka. Adegan musikalnya pun terlihat natural (walau kadang terlihat dipaksakan, but its ok), jangan dibandingkan dengan film India yang selalu nari-nari ga jelas setiap nyanyi :D.

Sebagai tolak ukur kualitas serial ini, sudah banyak penghargaan yang diraih oleh film ini, termasuk diantaranya: Golden Globe Award for Best Television Series – Musical or Comedy, dan juga dinominasikan pada kategori Best Actor – Television Series Musical or Comedy (Matthew Morrison), Best Actress – Television Series Musical or Comedy (Lea Michele) dan Best Supporting Actress – Series, Miniseries or Television Film (Jane Lynch).

Beberapa Tokoh utama di Glee:

Will Schuester (Matthew Morrison)
Aslinya Will adalah guru bahasa Spanyol di sekolah McKinley High, namun dia juga menjadi pembimbing klub Glee, dimana yang menjadi obsesinya, bahkan demi mempertahankan klub ini, dia rela meninggalkan tawaran kerja dengan gaji lebih besar. IMHO, jika dibandingkan dengan penyanyi pria lain di serial ini, Will merupakan penyayi pria dengan suara terbaik menurut saya (ini pendapat pribadi loh). Saya suka ketika dia menyanyikan lagu rap 'Gold Digger' Karya Kanye West... Damn, he can rap..! Cool, huh?



Sue Sylvester (Jane Lynch)
Peran Sue Sylvester di serial ini adalah sebagai pelatih cheerleade, menurut saya pribadi pemilihan aktris Jane Lynch sangat brilian, karena dia terbukti sukses berperan sebagai antagonis dan guru yang paling 'sadis' di serial ini :D. Dia juga  punya peran penting dalam serial ini, serial Glee tanpa Sue Sylvester rasanya seperti Star Wars tanpa Darth Vader...
Seberapa sadiskah Sue Sylvester..? Lihat saja kata-kata yang paling memorable dari Mrs Sue:
    5. “Sue Sylvester’s rainbow tent will gladly protect you from his storm of racism.”
    4. “Oh, hey, buddy. I thought I smelled failure.”
    3. “Your delusions of persecution are a telltale sign of early stage paranoid schizophrenia.”
    2. “I’m going to destroy your club with a conviction I call religious.”
    1. “I don’t trust a man with curly hair.”
See..? :D

Rachel Berry (Lea Michele)
Rachel Berry merupakan personil Glee yang paling menonjol, hampir di setiap episode dia selalu mendapat peran penting dan pastinya menjadi leading vocal wanita, karena dia personil wanita dengan suara terbaik di Glee. Melihat penampilan peran Rachel mengingatkan pada Ugly Betty, entah by accident atau sengaja, keduanya sangat mirip.
Kata-kata yang paling memorable dari Rachel:
- "Look, I know I'm just a sophomore, but I can feel the clock ticking away and I don't want to leave high school with nothing to show for it."
- "Being great at something is going to change it. Being part of something special makes you special, right? "

Finn Hudson (Cory Monteith)
Sejujurnya, saya tidak begitu menyukai Finn Hudson, karena aktor Cory Monteith aktingnya terlihat kaku. Well, at least he can sing. Kalau Rachel merupakan wanita yang paling menonjol, maka Finn merupakan pria terpopuler di Glee, karena selain sebelumnya me jadi kaptem football di McKinley High, dia juga (accidentally) menjadi leading vocal di Glee. Yang paling menyebalkan buat saya aktor pemeran Finn, Cory Monteith akhir-akhir ini mengencani Taylor Swift setelah Taylor Swift putus dengan Taylor Leuther (lho kok jadi ngegosip sih..? Back to topic! :D)

Mercedes Jones (Amber Riley)
Dia merupakan wanita dengan suara terkuat di klub Glee, semacam Beyonce-nya Glee mungkin. Mercedes tidak begitu banyak menonjol di klub ini, selain warna kulitnya yang kontras, karena satu-satunya wanita kulit hitam di Glee.

Kurt Hummel (Chris Colfer)
Dia adalah satu-satunya personil Glee yang Gay (aka banci :P). Well, dari sudut pandang saya sebagai pria normal, dia merupakan karakter yang paling annoying (ini pendapat pribadi loh, no offense girls! :D). Selain gay dia juga memiliki bakat unik, yaitu menyanyi dengan suara menyerupai wanita. Adegan yang paling menonjolkan sosok Kurt Hummel adalah ketika dia menari layaknya Beyonce di lagu Single Ladies, damn what a sissy boy. Kayanya kalau saya bertemu dengan pria seperti Kurt Hummel di jalan pasti saya sudah manjauh :D.

Artie Abrams (Kevin McHale)
Artie adalah satu-satunya anggota Glee yang cacat, dia harus menggunakan kursi roda karena mepunyai cacat pada kaki. Dia sempat menonojol di episode 'Wheel' yang berfokus kepada masalah siswa cacat di McKinley High seperti Artie. Walaupun cacat ternyata tidak mengurangi tekad dia untuk selalu tampil di klub Glee.

Personally, this is how a musical series should made..! Sebagai TV series yang terbilang baru, Glee cukup menyedot perhatian banyak orang dan kritikus (dan blogger :D) dikarenakan sukses secara komersil yang diluar dugaan. Bahkan bisa membuat orang yang tidak suka film musikal seperti saya menjadi penggemar Glee :D.

'The Pacific': Miniseri rasa 'Band of Brothers'

Written on 10:03 PM by Harits Anwar

Akhir-akhir ini jarang sekali ada TV series bertemakan perang (bahkan mungkin tidak ada, CMIIW) semacam Band of Brothers di tahun 2001. Bagi kamu yang rindu dengan TV seri sejenis Band of Brothers tidak boleh melewatkan miniseri terbaru HBO, yaitu 'The Pacific', yang digarap oleh duo Band of Brothers Tom Hanks dan Steven Spielberg.
Menyusul kesuksesan Band of Brothers di tahun 2001, kali ini Tom Hanks dan Steven Spielberg menjadi produser film yang disebut-sebut sebagai miniseri termahal yang pernah ada. Episode perdana The Pacific ditayangkan di HBO 14 Maret 2010, di Indonesia sendiri ditayangkan perdana pada 3 April oleh HBO di indovision. Bahkan Barrack Obama pun nonton langsung private screening miniseri ini di family theater of white house, ditemani 2 executive producer, steven Spielberg dan Tom Hanks di barisan depan.

Trailer 'The Pacific'
Film dengan biaya produksi sebesar USD$200 juta ini dibuat berdasarkan cerita kisah nyata dari armada laut (marinir) di medan perang Pasifik pada era Perang Dunia II, yang aslinya berasal dari dokumentasi riwayat hidup 'With the Old Breed: At Peleliu' dan 'Okinawa' oleh Eugene Sledge dan 'Helmet for My Pillow' oleh Robert Leckie.
Adegan awal 'The Pacific' mirip dengan 'Saving Private Ryan'
Film ini diperankan oleh James Badge Dale, Joe Mazzello dan Jon Seda, masing-masing berakting sebagai-Robert Leckie, Eugene Sledge, serta John Basilone, tiga marinir AS di medan pertempuran Pasifik selama Perang Dunia II. Bersama rekan-rekan marinir lainnya, mereka menjalanii pertempuran pertama dengan tentara Jepang di kawasan hutan Guadalcanal yang mengerikan, melewati hutan hujan yang tak tertembus Cape Gloucester, menyeberangi benteng karang terkutuk Peleliu, sampai teras pasir berdarah Iwo Jima, melalui ladang-ladang pembantaian Okinawa, hingga mencapai kemenangan, untuk kembali setelah Hari Kemenangan Atas Jepang.
Proses pembuatan 'The Pacific'
Miniseri yang rencananya dibagi menjadi 10 episode itu menampilkan setting yang semirip aslinya. Oleh karena itu, mereka perlu membangun lebih dari 90 set di lokasi syuting di Australia. Sedangkan setting alat tempur dan medan peperangannya menggunakan template setting film 'Saving Private Ryan' yang digarap oleh Steven Spielberg.

Trailer 'The Pacific'  #2
Bahkan untuk membangun setting Iwo Jima di Hillview Quarry, tim produksi harus menggali 62 ribu ton tanah. Tidak hanya itu, sebuah perusahaan lokal pun disewa untuk menambang dan menghaluskan 4 ribu ton Scoria, batu apung berwarna hitam. Mereka memilih menggunakan scoria karena pasir di Iwo Jiwa berwarna hitam, sementara tanah Hillview Quarry cenderung cokelat.
Screenshot 'The Pacific'
Kostum yang digunakan oleh aktor dan aktris 'The Pacific' juga tidak kalah detilnya. Untuk membuat tiga ribu kostum angkatan laut Amerika Serikat, mereka memerlukan 20 ribu meter persegi kain kepar yang ditenun dengan mesin tenun kuno di India.
Saat tulisan ini ditulis, hanya baru 3 episode yang ditayangkan, so, masih terlalu dini untuk menilai Miniseri yang satu ini. Walaupun begitu tetap saja saya greget untuk menulis review-nya. :D
Pengambilan gambar di adegan perahu marinir
Dua Episode pertama miniseri ini menceritakan tentang para prajurit AS dalam PD II di daerah Samudera Pasifik. Perang Pacific itu sendiri dimulai dengan penyerbuan Tentara AL Jepang ke Markas Besar AL di Pearl Harbour pada tanggal 8 desember 1941. Penyerangan itu pula menandai dimulainya keterlibatan AS dalam perang dunia kedua. Setelah kekalahan AL Jepang dalam perebutan Midway, AS mulai merancang perebutan kembali wilayah-wilayahnya di Pasifik yang sebelumnya diambil alih oleh Jepang.
Upaya AS dalam merebut kembali wilayahnya di Samudera Pasifik dengan menggunakan taktik “Lompat Kodok”, dalam artian, merebut kepulauan di wilayah tersebut satu persatu dari Jepang. Peperangan yang terjadi sangat dahsyat, dan meminta korban yang banyak dari kedua belah pihak. Pertempuran di Pasifik itu sendiri saat ini lebih dikenal dengan sebutan Pacific Theatre, sebagaimana disebutkan juga dalam film ini: "Pacific will be our next theatre of war...".
 Duo Band of Brothers: Hanks & Spielberg sebagai produser
Well, bagi penggemar Band of Brothers dan suka film perang, 'The Pacific' merupakan kategori film 'must-watch' buat kamu, apalagi mengingat minimnya TV series dengan tema perang akhir-akhir ini, tema yang cukup berbeda dengan kebanyakan TV series yang sedang populer saat ini, LOST, Heroes, Grey's Anatomy, 24, atau yang terbaru Glee. D
Dengan Steven Spielberg dan Tom Hanks sebagai produser sepertinya tidak perlu diragukan lagi kualitas filmnya. Apakan 'The Pacific' akan sebagus Band of Brothers..? We'll see... ;)